Dari judulnya terdapat kata Keindahan namun
berbanding terbalik dengan Moral Generasi Muda sekarang ini. Ada sebuah
ungkapan yang menyatakan bahwa “jumlah anak-anak hanya 25% dari total penduduk,
tetapi menentukan 100% masa depan bangsa”. Ungkapan tersebut menunjukkan betapa
besarnya pengaruh generasi muda terhadap maju-mundurnya sebuah bangsa. Untuk
itu kualitas generasi muda sangat berpengaruh terhadap kualitas sebuah bangsa.
Manakala generasi mudanya “bobrok”, maka “bobrok” pula bangsa tersebut.
Manakala generasi mudanya “latah”, maka “latah” pula bangsa tersebut.
Sebaliknya manakala generasi mudanya jujur, tekun, sopan, cinta damai, kerja
keras, dan bertanggungjawab, maka dipastikan akan baik pula kualitas bangsa
tersebut.
Kembali lagi kepada kita sebagai
generasi muda, untuk mencapai moral yang baik dimulai dengan munculnya
idealisme sebagai pegangan seseorang. Sebelum lebih jauh "Apa itu
Idealisme?", "Apa itu Moral?". Saya akan menjelaskan Idealisme
dan Moral.
Idealisme
Idealime adalah sebuah istilah yang
digunakan pertama kali dalam dunia filsafat oleh Leibniz pada awal abad 18. Ia
menerapkan istilah ini pada pemikiran Plato, seraya memperlawankan dengan
materialisme Epikuros. Istilah Idealisme adalah aliran filsafat yang memandang
yang mental dan ideasional sebagai kunci ke hakikat realitas. Dari abad 17
sampai permulaan abad 20 istilah ini banyak dipakai dalam pengklarifikasian
filsafat.
Moral
Moral (Bahasa Latin Moralitas) adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang memiliki nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang memiliki nilai implisit karena banyak orang yang memiliki moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus memiliki moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam ber interaksi dengan manusia. apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai memiliki moral yang baik, begitu juga sebaliknya.Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Setiap budaya memiliki standar moral yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku dan telah terbangun sejak lama.
Moral (Bahasa Latin Moralitas) adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang memiliki nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang memiliki nilai implisit karena banyak orang yang memiliki moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus memiliki moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam ber interaksi dengan manusia. apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai memiliki moral yang baik, begitu juga sebaliknya.Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Setiap budaya memiliki standar moral yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku dan telah terbangun sejak lama.
Moral juga dapat diartikan sebagai
sikap,perilaku,tindakan,kelakuan yang dilakukan seseorang pada saat mencoba
melakukan sesuatu berdasarkan pengalaman,tafsiran,suara hati,serta nasihat,dll.
Moral merupakan kondisi pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia yang
terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk. Maraknya kenakalan, tawuan, dan
kriminalitas yang dilakukan oleh remaja akhir-akhir ini bisa jadi merupakan
“tanda-tanda zaman” seperti yang dikemukakan oleh Prof. Thomas Lockona . Mulai
dari penyalahgunaan narkoba (drug’s), pergaulan bebas, tawauran pelajar &
mahasiswa, dst merupakan sebagian kecil contoh yang masuk dalam indicator “tanda-tanda
zaman” itu. Jika benar adanya demikian, rela-kah kita jika bangsa ini menuju
jurang kehancuran seperti kata Prof. Thomas Lockona ? Penulis yakin kita semua
tidak ada yang mau bangsa-nya hancur, kecuali mereka yang telah mati hati
nurani-nya.
Pada dasarnya seluruh manusia itu
dilahirkan dalam keadaan fitri (suci). Tidak ada manusia yang dilahirkan untuk
dipersiapkan menjadi teroris, perampok, preman, pembunuh, koruptor, atau
penjahat-penjahat lainnya. Begitu pula dengan generasi muda bangsa, baik atau
buruk akhlak mereka sangat bergantung pada bagaimana dididik dan dibesarkan
dalam lingkungannya. Baik itu lingkungan keluarga, sekolah, komunitas, hingga
lingkungan sosial masyarakat.
Penulis melihat terjadinya dekadensi
moral pada generasi muda saat ini adalah merupakan cerminan moral dari para
generasi tua-nya, tentu di samping dari efek globalisasi yang tidak bisa
dipungkiri. Mengapa cerminan dari para generasi tua? Sebab berdasar teori
sosiologi, setiap generasi muda akan meniru (bercermin) dari apa yang dilakukan
oleh generasi tua-nya. Manakala moral generasi tua-nya rusak, maka rusak pula
moral generasi muda-nya seperti yang terjadi sekarang ini. Maka dari itu
sebelum menyalahkan para generasi muda, menurut hemat penulis lebih bijak bila
para generasi tua pun mau instropeksi diri.
Penulis melihat selama ini kita hanya
sibuk menyalahkan generasi muda yang mulai “bobrok” moral-nya, tanpa melihat
dan menghayati factor-faktor yang menyebabkan-nya secara lebih bijak.
Sebenarnya jika kita mau melihat lebih bijak, krisis moral yang melanda
generasi muda kita saat ini, tidak bisa dilepaskan dari krisis “ketauladanan”
di negeri ini. Penulis melihat Indonesia sekarang ini benar-benar sedang
mengalami krisis “ketauladanan” yang bisa jadi ini-lah hulu dari aliran deras
krisis multidimensi yang melanda bangsa akhir-akhir ini.
Harus diakui generasi muda masih butuh
banyak pembelajaran dari generasi tua pendahulu. Untuk itu generasi tua sebagai
yang lebih berpengalaman harus aktif membimbing, mengarahkan, serta memberikan
pengayoman kepada para generasi muda, dan tidak hanya memberikan vonis ataupun
sumpah serapah. Akhirnya teriring kata “Bersatulah generasi muda dan generasi
tua demi kebangkitan bangsa Indonesia, DEMI KEJAYAAN NKRI…!”