Minggu, 10 Juni 2012

Rahasia Manusia dan Alam Semesta

Keberadaan alam semesta yang begitu luas , dimana di dalamnya terdapat milyaran galaksi, milyaran planet dan milyaran batuan angkasa dengan berbagai jenis dan bentuknya, yang berotasi pada garis edar masing masing dan usianya pun milyaran tahun, dan dari kesemuanya itu yang paling kita kenal adalah bumi, matahari, bulan dan bintang gemintang. Untuk apa semua ini Tuhan ciptakan?. Sebuah pertanyaan yang demikian susah untuk dijawab dan sampai hari ini masih menjadi misteri. Yang pasti adalah konsep, program dan sistem yang ada pada alam semesta ini Allah SWT penciptanya. Allah Ta’ala berfirman: Dan tidakkah mereka fikirkan bagaimana Allah memulai (mengawali) pembuatan makhluk, kemudian Ia akan ulangi pembuatan itu? Sesungguhnya yang demikian itu mudah atas Allah. (Surat 29 Al ‘Ankabut Ayat: 19) Katakanlah : berjalanlah kamu di bumi, lantas perhatikan bagaimana Ia telah memulai pembuatan (pembikinan), kemudian Allah akan adakan Kejadian yang lain, sesungguhnya Allah amat berkuasa atas tiap-tiap sesuatu. (Surat 29 Al ‘Ankabut Ayat: 20) Pada ayat 19 menjelaskan bahwa dimensi fikir manusia demikan luas dimana daya jangkauannya mampu mengkaji akan asal muasalnya alam semesta dan menjangkau ke masa depan akan sebab musabab hancurnya alam semesta. Bila kita cermati lebih dalam lagi bahwa setelah kehancuran alam semesta maka akan terjadi evolusi kembali terbentuknya alam semesta, isyarat inilah yang bisa kita tangkap dari firman ini, Maha Besar Allah Ta’ala dengan segala kesempurnaaNya. Daya fikir manusia memiliki kemampuan untuk mengkaji dari hasil kajian tersebut dan akan melahirkan teori teori yang bersifat ilmiah untuk membuktikan teori teori tersebut. Fase berikutnya adalah melakukan proses penelitian untuk menguji kebenaran teori teori yang dimaksud. Pembuktian demi pembuktian akan menjadi rentetan peristiwa yang berlangsung terus sampai menemukan hasil yang sebenarnya dan meyakinkan. Pada ayat 20 adalah proses penelitian akan proses evolusi makhluk yang menempati planet bumi berupa fosil fosil binatang sampai fosil manusia, penemuan penemuan ilmiah ini yang dijadikan bukti akan proses evolusi makhluk, siapa dan bagaimana awal mulanya manusia. Bahwa dari bentuk binatang menjadi manusia, demikian dengan dengan bunyi ayat” Allah akan adakan kejadian yang lain”. Ayat ini adalah dalil dari teori evolusi (penyempurnaan) dan sekarang ini dikenal dengan teori Darwin, ini hanyalah salah satu contoh dari salah satu ayat sebagai firman Allah Ta’ala sementara masih banyak lagi ayat-ayat di dalam Kitab Suci AlQur’an yang berbicara tentang teori dan ilmu pengetahuan yang ada pada zaman sekarang ini.Seluruh ayat-ayat yang tertulis di dalam Kitab AlQur’an mempunya arti dan makna yang sangat luas, ia adalah bahasa program yang lahir dari firman Allah Ta’ala dan seluruh ayat ayat tersebut akan menjadi misteri manakala ia hanya sebagai bahan bacaan dan menjadi nyanyian saja dan bukan dijadikan bahan kajian. Firman Allah Ta’ala : Surat 31 (Luqman) ayat 25. “Dan jika engkau tanya kepada mereka : Siapakah yang jadikan langit dan bumi? Niscaya mereka menjawab: Allah!” tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui”. Bahwa sedikit sekali manusia yang mau mengkaji ayat-ayat AlQur’an, mereka mengerti bahwa yang menciptakan langit dan bumi ini adalah Allah, tetapi mereka tidak mengerti bagaimana proses penciptaannya. Rasulullah S.A.W. bersabda menurut riwayat: “Akan datang pada manusia satu masa, dimana AlQur’an akan lapuk dalam hati manusia, sebagaimana lapuknya kain pada tubuh manusia, urusan mereka semua adalah tamak tidak ada rasa takut padanya. Jika seseorang diantara mereka berbuat baik, ia berkata: Akan diterima akan padaku, dan jikalau ia berbuat jahat, ia berkata:’akan diampuni dosa dosaku”. (HR. Abu Manshur ad Dailami dari Ibnu Abbas) Hadist tersebut menjelaskan kondisi yang terjadi pada zaman sekarang ini dan mengisyaratkan pada saat ini sedikit sekali orang yang mengkaji, kebanyakan mereka terpedaya, merasa aman, tentram, gembira tidak merasakan takut, serta mereka berlumuran maksiat, bekerja keras masalah duniawi.Tidak kita panjangkan kajian tentang proses tentang kejadian alam semesta, karena ada yang lebih penting untuk kita kaji yaitu makhluk yang mendiami (menempati) bumi yang akhirnya yang menjadi penguasanya adalah manusia.Untuk keberadaan makhluk pada planet bumi ini di butuhkan waktu yang sangat panjang, diawali dari proses pembentukan alam semesta, bagaimana Allah membuat program yang saat ini kita namakan evolusi, bahwa alam semesta ini berevolusi untuk membentuk demikian banyak galaksi yang di dalamnya terdapat jutaan bahkan milyaran planet dengan berbagai jenis dan benda benda langit lainnya, sampai akhirnya terbentuk matahari, bumi, bulan dan planet-planet lainya.Kondisi bumi saat itu masih kosong, Evolusi terus berlangsung hingga terbentuk atmosfir di muka bumi ini, selanjutnya adalah babak baru di dalam proses evolusi makhluk yang mendiami muka bumi ini. {Surat 6( Al An’am) ayat 98}/{Surat 21 ayat 30}. Kita kembali pada teori Darwin, bahwa atmosfirlah yang melahirkan satu jenis virus, ini terjadi karena adanya mutasi pada molekul molekul air, oksigen, gas karbon dan lain lain. Bersamaan dengan itu terjadilah lumut yaitu nenek moyang dari tumbuh tumbuhan yang ada sekarang ini, proses evolusi terus berlangsung dimana virus bermutasi menjadi makhluk yang bersel tunggal, awal evolusi ini berawal di lautan, kemudian bermutasi menjadi bentuk binatang di dalam laut, binatang laut bermutasi menjadi berbagai bentuk dan jenisnya serta ukuran, ia beradaptasi dengan lingkungan baik kedalaman maupun kondisi bawah laut, inipun berevolusi.Evolusi selanjutnya ada sebagian jenis binatang bermutasi kepada bentuk ikan, ikan bermutasi dalam evolusi dari bentuk yang kecil sampai bentuk yang besar dengan jenis yang berbeda beda. Dari beberapa jenis ikan bermutasi untuk berpindah ke daratan, ia menjadi binatang yang hidup di dua alam yaitu laut dan darat, terus bermutasi menjadi binatang darat dan seterusnya sampai kepada Zaman Dinosaurus, setelah sekian juta tahun terjadi bencana alam yang sangat dasyat, dari spesies ini hanya beberapa saja yang mampu bertahan hidup, yang lainnya mengalami kematian. Pada jaman itu terjadi kematian masal, menjadikan bangkai bangkai binatang bertebaran dimana mana, hal ini terjadi bukan berarti tidak ada maksudnya, ternyata merekalah yang menjadikan bahan bakar fosil yang kita nikmati ekarang ini. Evolusipun membentuk batu batuan menjadi barang barang tambang lainnya, diantaranya: emas, tembaga, nikel, bahan bahan kimia dan lain sebagainya. Sedangkan binatang yang bertahan hidup terus berevolusi, bermutasi, dan beradaptasi dengan kondisi alam, ia menjadi bentuk akhir yaitu kera(monyet), dari sinilah terjadi mutasi bentuk ke bentuk manusia tapi belum menjadi manusia, perilakunya masih seperti binatang, tetapi proses evolusi dan mutasi serta adaptasi terus berlangsung,maka terjadilah manusia yang sesungguhnya. Pada Abad 18 teori ini di tentang oleh seluruh ilmuwan di dunia yang berjumlah kurang lebih 140 orang dari berbagai negara. Mulai abad 19 teori Darwin satu persatu mulai terjawab dengan pembuktian ilmiah. Dari satu pembuktian kepembuktian berikutnya sampai memasuki abad 20 akhirnya para ilmuan di dunia menemukan mata rantai evolusi yang menjadi teori Darwin, baru pada tahun 2004 para ilmuan di dunia sepakat akan kebenaran teori Darwin tersebut. Manusia pada awalnya sangatlah primitif, cara mereka bertahan hidup tidak ada bedanya dengan binatang, mereka bertempat tinggal digoa goa, proses evolusi, mutasi serta adaptasinya menyesuaikan dengan evolusinya bumi dan planet planet lain. Inilah awal dari evolusi sifat dimana sebelumnya adalah evolusi fisik, kemudian masuklah pada zaman batu dan seterusnya. Dari evolusi sifat inilah melahirkan seorang manusia yang disebut Nabi Adam, yakni awal mula ditiupkan Ruh Allah Ta’ala ke dalam tubuh manusia. Dengan alasan inilah suatu pembuktian mengapa pada abad modern sekarang ini, masih banyak manusia yang bersifat binatang, mereka inilah yang tidak sukses di dalam proses evolusi sifat, dimana evolusi tersebut adalah dari sifat kebinatangan menuju kepada sifat KeTuhanan. Firman Allah Ta’ala : Surat 29 (Al-Ankabut) ayat 43 & 44. Ayat 43 :“Dan perumpamaan perumpamaan itu kami adakan untuk manusia, tetapi tidak mengerti dia melainkan orang orang yang pandai”. Ayat 44 :“ Allah telah jadikan langit dan bumi dengan mengandung kebenaran, sesungguhnya tentang hal itu adalah satu tanda bagi mu’min” Proses yang terjadi dengan proses evolusi, proses mutasi dan proses adaptasi adalah sebuah program Allah Ta’ala dimana dengan program tersebut Allah mengiformasikan tentang KeMahaBesaran, KeMahaSempurnaan dan KeMahaKuasaanya sebagaimana di jelaskan pada Surat 29 Al AnKabut ayat 29 pada ayat terakhir yang bunyinya :”Sesungguhnya yang demikian mudah atas Allah” . Terjadinya proses evolusi atau perubahan atas alam semesta disebabkan oleh adanya suatu proses rotasi atas seluruh planet yang ada pada alam semsta ini. Firman Allah Ta’ala: Surat 50 (Qaf) ayat 38 “Dan sesungguhnya Kami telah jadikan langit dan bumi dan apa apa yang ada diantara Kedua-duanya dalam enam masa, tetapi tidak menyentuh Kami sedikitpun kelelahan”. Suatu proses evolusi yang terjadi di dalam penciptaan alam semesta melalui enam masa, dimana yang dimaksud dengan masa adalah proses waktu sampai terjadi perubahan bentuk dan keadaannya, enam masa yang dimaksud adalah; 1. Masa Dzat 2. Masa Gas 3. Masa Awan 4. Masa Padat (Material) 5. Masa Hewan 6. Masa Manusia Yang masing masing masa memakan waktu jutaan tahun, fase 1 sampai dengan 4 adalah masa pembentukan seluruh planest yang ada pada alam semesta ini. Penciptaan alam semesta yang memakan waktu demikian panjang ini untuk kepentingan hadirnya manusia dimuka bumi ini, sedang yang dimaksud masa adalah proses evolusi. Firman Allah Ta’ala : Surat 46 (AL-AH-QAF) ayat 3 “Tidak kami jadikan langit dan bumi dan apa-apa yang diantara dua itu melainkan dengan ada gunanya dan sampai satu masa yang ditentukan, sedang orang-orang yang tidak percaya, berpaling dari apa yang diancam kepada mereka.” Untuk semua proses yang Allah Ta’ala ciptakan pada alam semesta ini induknya adalah Rotasi artinya semua perubahan yang terjadi dipicu oleh rotasi yang terjadi. EVOLUSI MANUSIA (SIFAT) Dalam kajian selanjutnya kita membahas suatu proses evolusi yang sangat penting menyangkut keselamatan manusia di alam dunia dan akhirat. Dipandang secara fisik, bentuk dari makhluk yang diberi nama manusia terlihat sudah sempurna, namun demikian tidak, bila dilihat dari segi Bathiniahnya. Proses selanjutnya manusia dihadapkan dengan tahapan proses evolusi sifat yang keberadaannya bertempat tinggal didalam bathiniah (jiwa) atau suatu piranti lunak, lokasi medan peperangan yang sangat dahsyat, sempurna atau tidaknya manusia tergantung kepada kemenangannya didalam peperangan tersebut. Sebagai contoh (suri tauladan) atas manusia adalah nabi atau rasul, ia adalah orang yang sukses di dalam peperangan, yang mencapai tingkat kesempurnaannya sebagai manusia. Firman Allah Ta’ala: Surat 33 (AL-AHZAB) ayat 21 “Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu bagi orang-orang yang mengharap Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” Untuk menghilangkan keragu-raguan dan ketidak pastian ayat inilah yang seharusnya dijadikan parameter dan barometer untuk menjalani hidup seorang manusia. Bagaimana kita akan mengetahui kebenaran dan kesalahan manakala tidak ada pedoman didalam mengerjakan sesuatu, tanpa arah yang pasti, seperti halnya memasuki hutan belantara tanpa membawa kompas, untuk selanjutnya kita akan kaji jati diri manusia. Apa dan siapa manusia itu? MANUSIA Nabi Muhammad SAW bersabda : “Barang siapa mengenal dirinya, maka pasti ia mengenal Tuhannya, barang siapa mengenal Tuhannya maka bodohlah akan dirinya.” Manusia terdiri atas tiga (3) unsur 1. Jasmaniah (badan kasar) 2. Bathiniah (badan halus) 3. Ruhaniah (cahaya) 1. JASMANIAH Piranti atas manusia yaitu jasmaniah/badan kasar piranti keras, untuk mengenal lebih jauh akan piranti ini mari kita kaji salah satu dari ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang apa itu jasmaniah (fisik manusia). Firman Allah Ta’ala : Surat 32 (AS-SAJDAH) Ayat 7 dan 8 Ayat 7, “Yang membaguskan pembuatan tiap-tiap sesuatu dan ia telah mulai pembuatan manusia itu dari tanah.” Ayat 8, “Kemudia ia jadikan keturunan manusia itu dari mani, dari air yang lemah.” Diawali dengan kalimat “yang membaguskan (menyempurnakan) maknanya adalah segala sesuatu yang ada pada alam semesta ini melalui suatu proses, tidak serta merta dia ada proses ini dinamakan evolusi, seperti halnya baju (pakaian). Tidak tiba-tiba ia ada dibadan kita, untuk menjadi pakaian melalui proses yang cukup panjang demikian pula dengan jasad manusia melalui proses evolusi yang sangat panjang, artinya bahwa keberadaan alam ini dengan segala bentuknya ini adalah suatu dimensi pencapai bentuk dimana terjadinya tata surya, galaksi, planet-planet mengalami suatu proses evolusi bentuk dan model sebelum dihuni oleh makhluk-makhluk berikutnya seperti manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Evolusi alam semesta inilah yang melahirkan bentuk makhluk berikutnya tersebut yang saat berada diatas muka bumi. Kalimat selanjutnya mengatakan “Ia telah mulai pembuatan manusia dari tanah”, kata “tanah” sendiri secara matrialpun melalui proses dan yang dimaksud tanah disini adalah unsur-unsur yang terdapat pada tanah tersebut. Seperti halnya unsur tanah yang terdapat pada hewan dan tumbuh-tumbuhan. Ada hubungan yang erat antara kalimat pertama dan kalimat kedua suatu mata rantai yang jelas dan pasti bahwa segala sesuatu akan melalui suatu proses penyempurnaan pada dimensi bentuk dan kualitasnya bahwa untuk mencapai bentuk manusia dalam dimensi fisiknya melalui proses yang sangat lama dan panjang. Dari suatu bentuk dan kualitas yang sangat sederhana menuju bentuk yang lebih sempurna yang akhirnya sampai pada bentuk fisik manusia yang sekarang ini. Firman Allah Ta’ala : Surat 23 (AL-MU’MINUN) Ayat 12 “Dan sesungguhnya kami telah jadikan manusia dari air tersaring dari tanah.” Unsur-unsur yang ada pada tubuh manusia (perangkat keras) terdiri atas 4 anasir yaitu : 1. Anasir Api 2. Anasir Angin 3. Anasir Air 4. Anasir Tanah Firman Allah Ta’ala : Surat 77 (AL-MURSALAT) Ayat 25 “Bukankah Kami telah jadikan bumi itu pengandung kamu?” Bahwa unsur yang terkecil yang ada pada bumi yaitu molekul, dari unsur molekul tersebut bermutasi menjadi inti sel inilah proses awal memasuki peradaban makhluk yang mendiami muka bumi. Inti sel bermutasi membentuk virus positif dan virus negative proses evolusi didalam mutasi dan adaptasi virus melahirkan makhluk bersel tunggal, sementara itu pada sisi yang lain bersamaan dengan proses hewan terkecil, molekul lainnya bermutasi memasuki dimensi tumbuh-tumbuhan yang diawali tumbuhan berupa lumut dan terus berevolusi sampai menjadi hutan belantara yang ada sekarang ini. Dari makhluk bersel tunggal bermutasi menjadi bermacam jenis binatang yang keberadaan di lautan, beberapa binatang ini bermutasi menjadi ikan dan tahapan lanjut nya dari beberapa jenis ikan bermutasi masih berbentuk ikan tetapi ia dapat hidup di air dan darat, evolusi harus berjalan seiring dengan berputarnya waktu jadi ia binatang penghuni daratan. Setelah jutaan tahun muncullah binatang-binatang purba yang diantara jenisnya adalah dinosaurus. Pada zaman inilah terjadi bencana alam yang demikian dahsyat hingga sebagian besar binatang-binatang purba hampir-hampir menemui kepunahan namum demikian masih ada dari beberapa jenis yang mampu bertahan hidup, dari jenis binatang ini, beberapa berevolusi menuju kepada bentuk-bentuk yang mendekati bentuk manusia, ia dikenal dengan nama Kera atau Monyet atau Orang Hutan dan nama orang hutan inilah perlu digaris bawahi, kemudian dari jenis orang hutan beradaptasi dalam mutasi kepada bentuk manusia secara fisik akan tetapi masih sangat primitive, dimana akal dan fikirannya masih sangat terbatas. Evolusi bentuk, akal, fikir terus berlangsung beradaptasi dengan kondisi alam sekitarnya hingga sekarang ini. Dalam kajian ini mutasi yang dimaksud yaitu perubahan pada inti sel atau istilah saat ini dikenal nama “GEN” (Genetik), perubahan yang terjadi pada evolusi alam (Bumi) mempengaruhi penyesuaian pada inti sel dan perubahan pada inti sel ini terlihat seperti tidak beraturan sesungguhnya tidak demikian, ia beradaptasi mengikuti bentuk perubahan kondisi iklim yang terjadi, keakuratannya sangatlah seimbang, melahirkan baik bentuk, jenis maupun kualitas yang berbeda. Sejak keberadaan binatang dilaut, setelah makhluk bersel tunggal perkembang biakan makhluk dari mani (nuth-fah). Firman Allah Ta’ala : Surat 32 (AS-SAJDAH) Ayat 8 “Kemudian Ia jadikan keturunan manusia itu dari mani, dari air yang lemah.” Bukan hanya manusia, seluruh binatang maupun yang berada didarat dan diair proses perkembang biakannyapun dari mani, ini adalah suatu system program Tuhan didalam evolusi makhluk. Kalimat “dari air yang lemah” bahwa fisik manusia (badan kasar dan badan halus) terkandung anasir dari sifat kehewanan (binatang) evolusi makhluk masih bersifat fisikal demikian makna dari kata “lemah.” Firman Allah Ta’ala : Surat 23 (AL-MU’MINUN) Ayat 14 “Kemudian, Kami jadikan mani (sperma) itu sekepal darah lantas darah itu Kami jadikan segumpal daging, lantas daging itu Kami jadikan tulang-tulang, lalu tulang-tulang itu Kami liputi (bungkus) dengan daging, kemudian Kami jadikan dia satu kejadian yang lain (sifatnya). Maka maha suci Allah, sebaik-baik pembikin.” Proses terjadinya manusia sejak dari mani sampai dengan janin sama persis dengan binatang, adapun letak perbedaannya pada kalimat “Kami jadikan dia satu kejadian yang lain (sifatnya)”. Makna yang terkandung pada kalimat ini ialah setelah mani berproses menjadi janin pada usia empat bulan sepuluh hari atau seratus tiga puluh hari diberikanlah Ruh Allah pada janin tersebut berbeda halnya dengan binatang, tidak ada Ruh Tuhan pada seluruh binatang yang ada dimuka bumi. Setelah usia janin sembilan bulan sepuluh hari secara umum lahir bayi manusia dengan bentuk fisik yang sempurna namun demikian, kondisi sifat masih terkandung sifat-sifat kehewanan. Firman Allah Ta’ala : Surat 80 (‘ABASA) Ayat 18 dan 19 Ayat 18, “Dari apakah Ia jadikan dia (manusia).” Ayat 19, “Dari Nuth-fah Ia jadikan dia, lalu Ia atur sifat-sifatnya.” Didalam badan halus (bathin) manusia masih terkandung anasir-anasir dari unsure api, angin, air dan tanah. Keempat unsur tersebut terkandung sifat-sifat kebinatangan sementara Ruh mengandung sifat Ketuhanan. Sifat binatang inilah yang dikendalikan oleh iblis atau disebut hawa nafsu, anasir inilah sebagai penghalang atas Ruh untuk melahirkan sifat Ilahi terhadap jasmaniah manusia. Evolusi selanjutnya adalah bagaimana usaha manusia untuk mencapai tingkat kesempurnaannya sebagai makhluk Ruhaniah bagian dari Ruh Allah sebagaimana para nabi dan rasul sebagai suri tauladan atas seluruh manusia diatas bumi ini. Firman Allah Ta’ala : Surat 76 (AL-INSAN) Ayat 2 “Sesungguhnya Kami telah jadikan manusia dari pada setitik mani yang bergiliran, yang Kami beri percobaan kepadanya yaitu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” Firman Allah Ta’ala : Surat 77 (AL-MURSALAT) Ayat 20 s/d 23 Ayat 20, “Bukankah Kami telah jadikan kamu dari pada air yang hina).” Ayat 21, “Yaitu Kami taruh dia ditempat ketetapan yang teguh.” Ayat 22, “Hingga satu masa yang tertentu.” Ayat 23, “Lantas Kami tentukan bentuknya, karena Kamilah sebaik-baik pembentuk.” Dari beberapa ayat yang tertulis didalam Al-Qur’an yang menceritakan tentang kejadian manusia, seluruhnya mengisyaratkan akan suatu proses evolusi dan seperti halnya ayat-ayat diatas mempertegas akan proses tersebut. Kondisi ini tertuang pada kalimat yang berbunyi pada ayat 22 pada ayat 20 “air yang hina” mengandung arti bahwa fisik manusia terkandung anasir sifat-sifat hewan. Proses evolusi terhadap manusia akan terus berlangsung hingga kehancuran alam semesta (kiamat), kehancuran yang terjadi disebabkan oleh tangan-tangan manusia dari sifat-sifat kehewanan (hawa nafsu), orang-orang ini yang tidak menyadari karena tidak memahami akan tujuan hidup atas dirinya, mereka tidak berevolusi menuju kepada tata nilai kesempurnaannya dan komunitas ini menempati kelompok mayoritas atas peradaban manusia. Kondisi ini terjadi adalah hal yang wajar karena untuk menuju kesempurnaan melalui tingkat kesulitan yang tinggi apa lagi pada zaman modern seperti sekarang ini, tinggal menunggu waktu saja, untuk menyaksikan hancurnya peradaban atas komunitas manusia. Firman Allah Ta’ala : Surat 30 (AR-RUM) Ayat 41 “Telah lahir kerusakan dibumi dan dilaut dengan sebab usaha tangan-tangan manusia, yang akhirnya Allah rasakan kepada mereka ganjaran dari sebagian yang mereka kerjakan, agar mereka kembali.” Tahapan selanjutnya setelah bentuk manusia dari segi fisiknya mencapai kesempurnaanya pada usia kandungan seratus tiga puluh hari, disinilah tata nilai manusia sebenarnya pembeda atas spesies binatang. Firman Allah Ta’ala : Surat 32 (AS-SAJDAH) Ayat 9 “Lalu Ia sempurnakan kejadiannya, Ia tiupkan pada sebagian dari RuhNya dan Ia jadikan bagi kamu pendengaran dan penglihatan dan hati tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.” Bentuk dari makhluk-makhluk yang Allah ciptakan yang tersebar diseluruh alam semesta ini, manusialah yang paling ideal, bentuk dari kesempurnaan makhluk ini terlukis pada kalimat “disempurnakan kejadiannya” artinya bahwa evolusi atas makhluk telah sampai pada tahapan akhir, dan pada usia bentuk makhluk yang dimaksud dengan manusia dialam kandungan seratus tiga puluh hari, maka ditiupkan Ruh Allah kedalam tubuh (jasmaniah) manusia, kondisi ini mengisyaratkan gambaran kesempurnaan atas diri manusia bahwa kesimpulan atas definisi ayat (9) yaitu ia adalah makhluk Ruhaniah yang dilengkapi dengan badan kasar dan badan halus sebagai piranti atas kehidupannya kelak pada alam dunia (dimensi matrial). Lahirnya manusia pada alam dunia adalah awal dari proses evolusi berikutnya yaitu evolusi sifat dan dapat diistilahkan evolusi bathin. Firman Allah Ta’ala : Surat 4 (AN-NISA) Ayat 28 “Allah hendak meringankan keberatan dari manusia, karena manusia itu dijadikan bersifat lemah.” Artinya bahwa kesempurnaan manusia baru dalam kondisi fisik (badan kasar) saja tetapi kondisi bathin (badan halus) masih bersifat lemah, itu sebabnya mengapa kitab Al-Qur’an diturunkan diatas bumi ini, itu semata-mata sebagai petunjuk dan pedoman dalam rangka meringankan keberatan (kesulitan) atas manusia mencapai kesempurnaan lahir maupun bathin, sedangkan Al-Qur’an adalah sumber dari segala sumber atas semua keadaan dan atas seluruh program dan system yang ada pada seluruh alam semesta ini. EVOLUSI SIFAT Setelah makhluk berevolusi semenjak keberadaannya dimuka bumi suatu proses evolusi yang panjang, memakan waktu jutaan tahun dalam bentuk fisik menjadikan bentuk fisik manusia yang terdiri atas tiga musuh yaitu jasmaniah, bathiniah dan Ruhaniah. Jasmaniah terdiri atas antara lain : Jantung, hati, otak, paru-paru, darah, tulang daging dst. Bathiniah terdisri atas antara lain : Akal, daya pikir, perasaan, hawa nafsu, panca indera dst. Dalam perjalanan hidupnya manusia melalui tujuh fase yaitu : Bayi, balita, anak-anak, remaja, pemuda, setengah tua, tua. Seluruh perangkat ini berkembang menurut ukurannya masing-masing dan setiap individu manusia berbeda-beda. Ruhaniah terdiri atas (3) unsur : 1. Nur Allah (Alif) 2. Nur Rasul (Lam) 3. Nur Insan (Mim) Proses evolusi bathiniah ini adalah evolusi akhlak (moral) yang mencerminkan akan perilaku manusia dalam menempuh perjalanan hidup, lulus atau tidaknya jalan yang ditempuhnya bahwa, jasmani kasar (fisik) mengandung unsur-unsur yang terdapat pada alam ini yaitu : 1. Unsur Api 2. Unsur Angin 3. Unsur Air 4. Unsur Tanah Masing-masing unsure tersebut memiliki sifat sendiri-sendiri, unsur sifat ini kita istilahkan Anasir, kondisi jasmani diatas terdiri atas anasir keempat yang terdapat pada jasmani kasar, ia disebut hawa nafsu. Sabda Rasullulah SAW : “Sesungguhnya hawa nafsu menutupi hatiku sehingga aku memohon ampun kepada Allah dalam sehari semalam tujuh puluh kali.” (HR. Muslim dari hadist Al-Aghrar AlMuzani) Musuh utama manusia adalah hawa nafsu yaitu empat anasir yang dikendalikan syetan, ia penghalang atas proses evolusi manusia menuju kepada sifat Ilali yang terkandung atas Ruhaniah. Pada zaman Nabi Muhammad, perang terbesar dikisahkan adalah Badar, sesudah perang Badar masih ada perang yang lebih besar yaitu perang melawan hawa nafsu. Kondisi ini terjadi pada setiap individu manusia, untuk itulah kita wajib mengerti dan memahami apa yang dimaksud dengan hawa nafsu. Pada diri manusia terdapat dua sifat yaitu : 1. Sifat Hewan (binatang) 2. Sifat Tuhan (Allah) Untuk memenangkan perang terbesar atas manusia dimana musuh terbesarnya adalah unsur kehalusan (hawa nafsu) maka untuk mengerti dan memahami akan karakteristik dari unsur-unsur tersebut menjadi prioritas utama dalam kata lain hal yang sangat wajib. 1. UNSUR API (AMARAH) Firman Allah Ta’ala : Surat 12 (YUSUF) Ayat 53 “…………..karena sesungguhnya nafsu amarah itu menyuruh kepada kejahatan.” Seperti halnya sifat atas api nafsu amarah pemicu atas besar dan kuatnya keinginan pada jasmani kasar (fisik) dan jasmani halus (bathin) atas segala kebutuhannya ia menguasai jiwa untuk memenuhi hasrat keinginan kepuasan yang bersifat sementara, ia merangsang untuk berbuat aniaya, maksiat dll dengan menghalalkan segala cara sifat api (amarah) ini akan melahirkan kebodohan atas diri manusia, ia merupakan dimensi kelicikan, sumber perilaku yang tercela, potensi otak hanya digunakan selalu berfikir jahat, yang ditimbulkan kerap kali merugikan orang lain. Cerminan yang tampak atas perilaku manusia dapat terlihat antara lain : mudah marah, mudah tersinggung, keras kepala, pendendam, suka mencela, suka sekali dihormati, pembenci, ujub, ria, takabur, sombong (tinggi hati), merasa selalu benar, ingin menang sendiri, dll. Kondisi ini terjadi manakala qualitas spiritual yang lemah namun demikian intelegensial quality tidak berarti lemah. Pada dekade sekarang ini banyak kita jumpai sifat amarah ini menguasai manusia, ia terdapat pada tingkat social lemah menengah terutama pada kalangan atas. Nafsu amarah lebih condong kepada kekuasaan (tahta) dan untuk mendapatkannya apapun akan dilakukan demikian karakteristik atas unsure api pada diri manusia 2. UNSUR ANGIN (LAUWAMAH) Firman Allah Ta’ala : Surat 75 (AL-QIYAMAH) Ayat 2 s/d 5 Ayat 2, “Dan tidak! Aku bersumpah dengan nafsu lauwamah.” Ayat 3, “Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan bisa mengumpulkan kembali tulang- tulangnya.” Ayat 4, “Bahkan Kami kuasa atas meratakan (menyusun) kembali jari-jarinya.” Ayat 5, “Tetapi kecenderungannya manusia itu berbuat kedurhakaan terus menerus.” Ayat kedua dari surat Al-Qiyamah diawali dengan kata “tidak” ini menandakan bahwa kalimat-kalimat selanjutnya adalah sesuatu hal yang pasti terjadi dan sama sekali tidak ada keraguan atas kejadiannya. Kalimat selanjutnya setelah kata “tidak” adalah “Aku bersumpah dengan nafsu lauwamah” Nafsu Lauwamah (Angin) artinya karakteristik seperti halnya perilaku angin dimana kondisi manusia yang tidak mempunyai ketetapan hati, setiap detik selalu berubah terkadang kebarat kemudian timur, utara, selatan terkadang berputar dengan kencang, terkadang lemah, terkadang keras kondisi ini karena pengaruh pertemuan suhu panas dan suhu dingin demikian pula kondisi yang terjadi pada diri manusia, dimana fikirannya selalu berputar baik siang maupun malam, tidak pernah ada ketenangan, pergi kesana dan kemari, hatinya tidak pernah tentram ini semua disebabkan karena cintanya kepada dunia, syaitanlah yang menjadi penguasa atas manusia yang seperti ini. Kata “bersumpah” memaknakan akan kondisi manusia bahwa kebanyakan (mayoritas) manusia berada pada kondisi lauwamah artinya ia dikuasai oleh karakter angin. Kecenderungan terhadap harta benda demikian besar maka akan mengakibatkan kecenderungan terhadap Tuhan demikian lemah (kecil) artinya nilai-nilai KeTuhanan terabaikan, tidak pernah merasa cukup dan puas dengan apa yang sudah didapat, selalu saja kurang, hidup baginya mengabdi pada dunia. Ayat tiga (3) mengandung maksud dan makna yaitu, tegaknya manusia disebabkan tulang belulang sebagai penopang atas badan lahir demikian manusia bisa berjalan, berlari, beraktifitas kita bisa bayangkan manakala jasad manusia tanpa dilengkapi dengan tulang belulang dan dari mana tulang berasal. Firman Allah Ta’ala : Surat 23 (AL-MU’MINUN) Ayat 14 “Kemudian, Kami jadikan mani (sperma) itu sekepal darah lantas darah itu Kami jadikan segumpal daging, lantas daging itu Kami jadikan tulang-tulang, lalu tulang-tulang itu Kami liputi (bungkus) dengan daging, kemudian Kami jadikan dia satu kejadian yang lain (sifatnya). Maka maha suci Allah, sebaik-baik pembikin.” Bahwa tulang mengandung seluruh unsur alam, ia mewakili atas seluruh unsur yang terdapat pada badan lahir (jasad). Tulang atas manusia seperti halnya tiang terhadap rumah tidak akan rumah itu berdiri kokoh tanpa adanya tiang. Kata “mengumpulkan” terkait dengan manusia yang mencintai dunia dengan kecintaannya itu maka pekerjaannya mengumpulkan akan harta dunia. Orang-orang ini kepercayaannya terhadap akhirat sangat lemah mengakibatkan ia tidak yakin dengan kalimat yang tertulis pada surat Al-Mu’minun ayat tiga (3). Ayat empat (4) kias atau simbul jari-jari adalah ia sebagai alat pelaksana atas apa yang diingininya seperti halnya mengumpulkan harta dan mencarinya. Firman Allah Ta’ala : Surat 104 (AL-HUMAZAH) Ayat 2 & 3 “Yang mengumpul-ngumpulkan harta dan menghitung-hitungnya.” “Yang menyangka bahwa hartanya memelihara dia” Perilaku seperti ini akan terus menerus menguasai seseorang maka ayat lima (5) menyatakan bahwa apa yang dikerjakan adalah perbuatan durhaka. Pada zaman modern sekarang ini, kondisi yang dimaksud pada surat Al-Humazah ayat 2 dan 3, sudah menjadi pemandangan umum, dimana manusia berlomba-lomba atas kehidupan dunia, cita-citanya terhadap harta begitu besar, penyakit ini menghinggapi hampir seluruh kalangan masyarakat dunia. Karakteristik unsur angin mengakibatkan atas diri manusia seperti cahaya didalam diri, terkadang hidup namun demikian lemah energinya terkadang mati dalam lubuk hati manusia suatu saat berbuat maksiat (kejelekan) saat-saat tertentu menyadari akan perbuatannya kemudian ia menyesalinya dan saat lain ia mengulanginya terkadang cahaya Ruh Ilahi melalui jiwa kerap kali menegurnya dengan halus akan perbuatan maksiat yang dilakukannya tetapi ia tidak mampu untuk mencegahnya. Kondisi ini merupakan sumber penyesalan, karakter nafsu lauwamah adalah ia sebagai penggerak atas hawa nafsu-hawa nafsu yang lainnya. Diantara sifat-sifatnya adalah : Suka makan enak dan banyak, korup, serakah, rakus, pelit, boros, suka memperkaya diri, bermegah-megahan, segala sesuatu ingin dimiliki dst.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar